CERITA KAUM MUDA JEPANG YANG BEKERJA KERAS SAMPAI TEWAS

 

Naoya menyukai komputer dan kesempatan bekerja di perusahaan tersebut sangat disyukuri mengingat bursa lowongan kerja di Jepang penuh persaingan.

Namun, dua tahun kemudian, masalah mulai muncul.

“Dia bercerita kepada saya bahwa dia sibuk, tapi dia mengaku kondisinya OK. Namun kemudian dia pulang ke rumah untuk menghadiri permakaman ayah saya dan dia tidak bisa bangun dari ranjang. Dia berkata, ‘Biarkan saya tidur sebentar. Saya tidak bisa bangun. Maaf, bu. Tapi biarkan saya tidur’.”

Dari teman-teman Naoya, Michiyo baru mengetahui bahwa putranya itu bekerja terus-terusan tanpa istirahat.

“Dia biasanya bekerja sampai jadwal kereta terakhir. Jika dia ketinggalan kereta, dia tidur di mejanya. Seburuk-buruknya, dia harus meneruskan kerja dari pukul 22.00 sampai besok malamnya. Total dia bekerja 37 jam.”

Dua tahun kemudian, Naoya meninggal dunia pada usia 27 tahun akibat overdosis obat. Kematiannya secara resmi ditetapkan sebagai karoshi—istilah Jepang untuk kasus kematian akibat terlalu banyak bekerja.

Bekerja sampai melampaui jam kerja resmi sudah menjadi budaya Jepang dan bukanlah fenomena baru. Perilaku seperti ini pertama kali tercatat pada era 1960-an. Namun, sejumlah kasus kematian akibat bekerja terlalu lama membuat karoshi menjadi sorotan.

 

Jam kerja per bulan

Pada hari Natal tahun 2015 lalu, Matsuri Takahashi melompat dari gedung hingga tewas. Perempuan berusia 24 tahun itu adalah seorang karyawan perusahaan periklanan Dentsu.

Baru diketahui belakangan bahwa dia jarang tidur setelah bekerja lembur 100 jam selama satu bulan sebelum dia bunuh diri.

Makoto Iwahashi, dari Posse—organisasi yang menyediakan bantuan untuk para karyawan muda—mengatakan insiden tersebut bukanlah hal unik, apalagi bagi karyawan muda. Dia mengaku pihaknya kerap menerima keluhan soal jam kerja yang lama.

“Menyedihkan karena pekerja muda berpikir mereka tidak punya pilihan lain. Jika mereka tidak berhenti, mereka harus bekerja lembur 100 jam. Jika mereka berhenti, mereka tidak bisa menghidupi diri.”

Situasi saat ini, menurut Iwahashi, diperparah oleh merosotnya jaring pengaman.

“Kami mengalami karoshi pada 1960-an dan 1970-an. Perbedaan besarnya adalah mereka harus bekerja lama, tapi mereka dijamin bekerja sampai pensiun. Sekarang tidak begitu.”

 

Budaya lembur

Angka resmi menyebutkan karoshi mencapai ratusan kasus setiap tahun, yang meliputi serangan jantung, stroke, dan bunuh diri. Namun, pegiat sosial mengklaim angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Sebuah survey terkini menemukan nyaris seperempat dari seluruh perusahaan Jepang memiliki karyawan yang bekerja lembur lebih dari 80 jam per bulan, tapi tidak mendapat uang lembur. Dari perusahaan-perusahaan itu, 12 di antaranya punya karyawan yang bekerja lembur lebih dari 100 jam per bulan.

Angka-angka itu penting karena kerja lembur 80 jam per bulan dipandang sebagai patokan meningkatnya peluang meninggal dunia.

Pemerintah Jepang telah didesak untuk bertindak. Namun, sejatinya tantangan terberat untuk mengakhiri karoshi adalah menghentikan budaya lembur di Jepang. Dalam kungkungan budaya ini, karyawan yang pulang lebih dulu sebelum rekan kerja atau bos pulang, dianggap aneh.

Guna mengikis ‘budaya lembur’, pemerintah mengenalkan ‘Jumat Premium’. Melalui langkah ini, perusahaan-perusahaan diajak membiarkan karyawan-karyawannya pulang pukul 15.00 pada Jumat terakhir setiap bulan. Pemerintah juga menghendaki karyawan lebih banyak mengambil cuti.

Karyawan diberi hak cuti selama 20 hari setiap tahun, meski nyatanya hampir 35% karyawan tidak mengambil hak itu sama sekali.



Mematikan lampu-lampu

Selain ‘Jumat Premium’, pemerintah daerah Toshima di Tokyo berinisiatif mematikan lampu-lampu kantor pada pukul 19.00 demi memaksa karyawan pulang ke rumah.

“Kami ingin mengambil langkah nyata,” kata manajer Hitoshi Ueno.

“Ini bukan hanya soal memangkas jam kerja. Kami ingin karyawan lebih efisien dan produktif sehingga semuanya bisa mengamankan dan menikmati waktu luang mereka. Kami ingin mengubah lingkungan kerja secara menyeluruh,” lanjutnya.

Soal efisiensi, Hitoshi ada benarnya. Jepang memang salah satu negara dengan jam kerja kantor terpanjang di dunia, namun Jepang juga negara paling tidak produktif di antara kelompok tujuh negara maju dunia atau G7.

 

Meski demikian, mematikan lampu dan mengenalkan ‘Jumat Premium’ dipandang pegiat sosial sebagai tindakan remeh yang gagal mengatasi akar masalahnya, yaitu pekerja muda sekarat lantaran bekerja terlalu keras dan terlalu lama.

Satu-satunya solusi, menurut mereka, adalah memberlakukan batasan jam lembur secara resmi dan diatur undang-undang.

Awal tahun ini, pemerintah mengusulkan batasan lembur selama 60 jam per bulan, meski perusahaan-perusahaan diizinkan memperpanjang sampai 100 jam dalam ‘periode sibuk’.

 

Mengorbankan kesejahteraan

Sejumlah kritikus menilai pemerintah memprioritaskan kepentingan bisnis dan ekonomi dengan mengorbankan kesejahteraan karyawan.

“Rakyat Jepang mengandalkan pemerintah, tapi mereka dikhianati,” kata Koji Morioka, seorang akademisi yang meneliti fenomena karoshi selama 30 tahun.

Sampai pemerintah benar-benar bertindak, jumlah karyawan muda yang meninggal dunia akibat terlalu lama bekerja bertambah dan kelompok penyokong keluarga korban terus mendapatkan anggota baru.

Michiyo Nishigaki, yang kehilangan putra semata wayangnya, Naoya, mengatakan negara sedang membunuh para karyawan yang seharusnya dihargai.

“Perusahaan-perusahaan hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek. Putra saya dan pekerja muda lainnya tidak membenci bekerja, mereka mampu dan mereka ingin bekerja dengan baik.”

“Berikan mereka kesempatan bekerja tanpa jam kerja panjang atau masalah kesehatan sehingga negara akan mendapat keiistimewaan karena mendapat mereka.”

Sumber:

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-40141942

Advertisements

CHINESE COMPANY DAN BANGKRUTNYA JAMU NYONYA MENEER. Oleh: Dr.Herry Antono, SE, MM.

TiongHoa Indonesia
10 Agustus 2017 · Daerah Khusus Ibukota Jakarta ·

*CHINESE COMPANY DAN BANGKRUTNYA JAMU NYONYA MENEER.*

Oleh: Dr.Herry Antono, SE, MM.

Suatu pertanyaan yg menarik, kenapa Chinese Company di Indonesia hampir tidak ada yg bisa bertahan sampai generasi ke 4 (buyut). Kalau ada hanya suatu anomali saja. Bahkan generasi ke 3 (cucu) pun relatif sedikit dan yang masih bertahanpun management di dalamnya cukup rapuh.

Secara tdk langsung ada pembagian wewenang antara cucu dari si A, si B, dst, dan masing² ada kata sepakat tdk resmi untuk tidak saling mengganggu. Tindakan atau keputusan apapun yang dilakukan cucu dari si A tidak akan diganggu cucu dari si B, atau sebaliknya. Jelas ini indikasi kuat, sudah tidak ada lagi “unity of comnand” yang diperlukan dalam management suatu perusahaan.

 

*KISAH SUKSES PEDAGANG TIONGHOA.*
Banyak kisah sukses para pedagang Tionghoa yg dulu dimulai dari pedagang kecil ala PKL sekarang. Berkat ketekunannya, mereka banyak yg sukses menjadi pedagang besar dan banyak juga yg beralih profesi menjadi pengusaha industri, dari yang kecil, menengah, besar, sampai yang raksasa.

Kisah sukses mereka memiliki pola yg nyaris sama, di mana si ayah menjadi single fighter baik di rumah maupun di tempat usaha. Dan umumnya semua mengeluh, anak²nya tidak ada yg bisa diandalkan. bahkan yang sudah sarjana sekalipun. Oleh karena itu pucuk kendali selalu dipertahankan secara sentralistis oleh sang ayah, sehingga anak²nya cenderung apatis.

Karena sang ayah bekerja berdasarkan naluri dan feeling, jelas sangat sulit bagi anak²nya mengikuti kemauan ayahnya, yang tidak jelas arah dan maksudnya. Masalah akan bertambah rumit lagi, karena dulu rata2 orang Tionghoa punya anak banyak. Bahkan tidak jarang, anak tertua cukup layak untuk menjadi ayah dari anak terkecil.

Kondisi seperti ini tidak masalah ketika sang ayah masih sehat dan bisa mengendalikan keluarga maupun perusahaan. Masalah mulai timbul ketika sang ayah sudah mulai sakit²an dan tdk bisa mengelola perusahaan lagi. Otomatis CEO perusahaan akan diserahkan kepada anak tertua atau anak yang dianggap paling mampu mengendalikan perusahaan.

 

*PERUSAHAAN MAJU vs KELUARGA PECAH.*
Ketika CEO perusahaan jatuh ke tangan anak, dan sang anak tidak mampu mengelolanya sehingga perusahaan bangkrut, cerita akan selesai sampai disitu. Walaupun sampai terjadi perselisihan keluarga dan menyalahkan CEO baru, tapi kadar perselisihan masih ringan. Semua anak akan berusaha cari nafkah nasing².

Tapi ketika ditangan sang anak perusahaan semakin maju, ini identik dengan memelihara bom waktu. Bom waktu akan mulai meledak satu persatu ketika adik²nya dewasa dan harus berumah tangga. Kalau sang CEO cukup bijak mengatur pembagian perusahaan, bom waktu ini bisa diredam sementara, dan baru akan aktif kembali di generasi berikutnya.

Bom waktu ini akan segera meledak jika si kakak yg menjadi CEO berpikir, bahwa perusahaan ini menjadi besar berkat jasa dia. Katakanlah waktu dia jadi CEO menggantikan ayahnya, kekayaan bersih perusahaan hanya Rp. 10 m. Ketika adik²nya meminta pembagian karena akan menikah, harta bersih perusahaan sudah menjadi Rp.100 m. Inilah sumber konflik utama.

Adik² nya akan beranggapan, CEO hanya meneruskan saja perusahaan peninggalan orang tuanya. Jadi pembagian harus dari Rp.100 m, toh selama ini si CEO sudah mendapat gaji dan fasilitas sebagai CEO. Lagi pula harga tanah sudah naik banyak, jadi nilai perusahaan yang dulu hanya Rp.10 m tsb sekarang mungkin sudah naik menjadi Rp. 50 m.

Sang CEO tentu tidak mau kalah. Adik² nya bisa sampai dewasa dan sekolah karena dibiayai hidupnya oleh dia. Kalau tidak dia yang mengelola, perusahaan tsb sudah bangkrut dari dulu. Akibat kasus seperti ini, di Bandung pernah kejadian sang adik yang kalah dalam gugatan di pengadilan, sampai tega membunuh kakaknya.

 

*KASUS JAMU NYONYA MENEER.*
Apa yang terjadi di perusahaan Jamu Nyonya Meneer, seperti yg diberitakan di mana², tampaknya tidak jauh dari seputar masalah yang diuraikan di atas. Ketika sampai generasi ke 2 (anak), ikatan saudara kandung masih bisa menahan perpecahan antar saudara.

Tapi ketika sampai ke generasi ke 3 (cucu), ikatan keluarga sudah semakin longgar, dan turut campur “pihak luar” (mantu dan cucu mantu) sudah semakin luas, perpecahan sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Kalaupun mereka masih bertahan di perusahaan, karena sudah tidak ada lagi unity of command, maka perusahaan akhirnya akan bangkrut.

 

 

*SALAH LANGKAH*
Kejadian seperti ini bukan baru terjadi kali ini di PT. Nyonya Meneer, tapi banyak terjadi di berbagai Chinese Company di mana², di Indonesia. Hal seperti ini juga terjadi di perusahaan yg sudah berbentuk PT, karena ada ketidak puasan dari para pemegang saham yang mewarisi saham dari orang tuanya.

Tapi jika pembagian saham ini dilakukan sejak sang ayah masih hidup, disertai pengaturan tugas, hak dan kewajiban masing² anak secara jelas, niscaya ketidak puasan ini akan dapat diredam dan tidak akan menjadi bom waktu. Perusahaan juga harus dikelola secara profesional, dimana hanya anak yang kapabel saja yang boleh bekerja di perusahaan.

Ironinya, di hampir semua Chinese Company di Indonesia saat ini, jabatan Direktur Keuangan, Direktur Penjualan, dan Direktur Pembelian, selalu dipegang oleh keluarga sendiri tanpa melihat kemampuan masing² orang. Alasan klasik, kalau pakai orang luar takut di korupsi.

Tidak jarang Direktur Keuangan fungsinya hanya menanda tangani Cek / GB yang notabene tugas seorang kasir. Begitu juga dengan tugas seorang Direktur Penjualan dan Pembelian, tugasnya hanya menanda tangani invoice atau nota tagihan.

 

*KESIMPULAN*
Karena ketidak profesionalan ini, maka pegawai² di bawahnya saling berlomba mencari muka. Akibatnya pertentangan kakak beradik tsb semakin tajam, karena hasutan dari staff masing² di bawahnya. Niscaya kekonyolan² seperti ini tdk akan terjadi, jika jabatan² penting perusahaan ditangani oleh orang² yg benar² profesional pada bidangnya.

Direktur Keuangan, Direktur Penjualan, dan Direktur Pembelian, tugasnya mengelola Keuangan, Penjualan, dan Pembelian sedemikuam rupa untuk mendapatkan hasil yang optimal. Kalau pos-pos penting di perusahaan dikuasai oleh orang² yang tidak profesional, hanya karena mereka anak / cucu pemilik perusahaan, jangan heran kalau perusahaan dalam waktu relatif singkat akan bangkrut.

 

Bandung, 8 Agustus 2017

Dari Mana Datangnya Angka Nol?

Penemuan angka nol adalah perkembangan yang sangat signifikan dan fundamental bagi ilmu kalkulus, yang melahirkan cabang ilmu fisika, teknik dan teknologi

Di Gwalior, sebuah kota yang padat di pusat India, sebuah benteng abad ke-8 menjulang tinggi dengan kepongahan abad pertengahan di dataran tinggi, di jantung kota.

Gwalior Fort adalah salah satu benteng terbesar di India, tetapi jika melihat lebih teliti menara-menara menjulang tinggi di atasnya dengan ukiran dan lukisan dinding yang penuh warna, Anda akan menemukan sebuah kuil kecil di abad ke-9 yang diukir di permukaan batu yang kokoh.

Kuil Chaturbhuj sangat mirip dengan banyak kuil kuno lainnya di India – kecuali bahwa ini adalah titik nol untuk angka nol. Kuil ini terkenal sebagai contoh tertua dari nol sebagai digit tertulis: prasasti yang ditulis abad ke-9, mengukir angka ‘270’ yang terlihat jelas.

Penemuan nol adalah perkembangan matematika yang sangat signifikan, yang fundamental bagi kalkulus, yang membuat fisika, teknik, dan banyak teknologi modern menjadi mungkin. Tapi seberapa pentingnya konsep nol yang berasal dari budaya India ini bagi India modern – dan dunia modern secara umum?
Ketiadaan

Saya teringat diskusi TED oleh mitolog terkenal India Devdutt Pattanaik di mana dia menceritakan kisah tentang kunjungan Alexander Agung ke India. Penakluk dunia ini rupanya bertemu dengan apa yang dia sebut ‘gymnosophist’, atau petapa – seorang pria telanjang, bijaksana, mungkin seorang yogi – duduk di atas batu dan menatap langit, dan bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan?”.

“Saya mengalami ketiadaan. Apa yang kamu lakukan? “Jawab si petapa.

“Saya menaklukkan dunia,” kata Alexander.

Mereka berdua tertawa; masing-masing berpikir yang lain bodoh, dan menyia-nyiakan hidup mereka.

Cerita ini terjadi jauh sebelum angka nol pertama ditorehkan di dinding kuil Gwalior, tetapi petapa yang melakukan meditasi pada ketiadaan sebenarnya memiliki hubungan dengan penemuan angka tersebut.

Orang India, tidak seperti orang-orang dari banyak kebudayaan lain, secara filosofis terbuka terhadap konsep ketiadaan. Sistem seperti yoga dikembangkan untuk mendorong meditasi dan pengosongan pikiran, sementara agama Buddha dan Hindu merangkul konsep ketiadaan sebagai bagian dari ajaran mereka.

Dr Peter Gobets, sekretaris Yayasan ZerOrigIndia yang berbasis di Belanda, atau Zero Project, yang meneliti asal-usul nol digit, mencatat dalam sebuah artikel tentang penemuan angka nol bahwa “Matematis nol (‘ shunya’ dalam bahasa Sanskerta) mungkin telah muncul dari filsafat ketiadaan kontemporer atau Shunyata [doktrin Buddhis tentang mengosongkan pikiran seseorang dari kesan dan pikiran]”.

Selain itu, bangsa ini telah lama memiliki daya tarik dengan matematika yang canggih. Para matematikawan India awal terobsesi dengan angka-angka raksasa, menghitung dengan baik dalam angka triliunan, sementara orang Yunani Kuno berhenti di sekitar 10.000. Mereka bahkan memiliki tipe angka tak terhinga yang berbeda.

Astronom dan matematikawan Hindu Aryabhata, lahir pada tahun 476, dan Brahmagupta, lahir pada tahun 598, sama-sama dipercaya sebagai orang pertama yang secara formal menggambarkan sistem nilai tempat desimal modern dan menyajikan aturan yang mengatur penggunaan simbol nol.

Meskipun Gwalior telah lama dianggap sebagai tempat terjadinya angka nol pertama yang ditulis sebagai lingkaran, sebuah gulungan India kuno yang disebut manuskrip Bhakshali, yang menunjukkan simbol dot placeholder, baru-baru ini tertanggal karbon pada abad ke-3 atau ke-4. Sekarang dianggap sebagai kejadian awal dari nol.

Marcus du Sautoy, profesor matematika di Universitas Oxford, dikutip di situs web universitas mengatakan, “Penciptaan angka nol sebagai nomor dalam dirinya sendiri, yang berevolusi dari simbol titik tempat ditemukan di manuskrip Bakhshali , adalah salah satu terobosan terbesar dalam sejarah matematika. Kita sekarang tahu bahwa pada awal abad ke-3, para matematikawan di India menanam benih gagasan yang nantinya akan menjadi sangat fundamental bagi dunia modern. Penemuan ini menunjukkan betapa bersemangatnya matematika di sub-benua India selama berabad-abad. “

Tak kalah menarik adalah alasan mengapa nol tidak dikembangkan di tempat lain. Meskipun bangsa Maya dan Babylonia (dan banyak peradaban lainnya) mungkin memiliki konsep nol sebagai placeholder, belum jelas apakah gagasan tersebut telah dikembangkan sebagai angka yang akan digunakan dalam matematika di tempat lain.

Satu teori adalah bahwa beberapa kebudayaan memiliki pandangan negatif terhadap konsep ketiadaan. Misalnya, ada suatu masa di masa awal Kekristenan di Eropa ketika para pemimpin agama melarang penggunaan nol karena mereka merasa bahwa, karena Tuhan ada dalam segala hal, simbol yang mewakili tidak ada yang harus menjadi setan.

Jadi mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan ide-ide ini, dengan kebijaksanaan spiritual India yang memunculkan meditasi dan penemuan nol. Ada gagasan lain yang terhubung juga, yang memiliki efek mendalam pada dunia modern.

Konsep nol sangat penting untuk sistem yang menjadi dasar komputasi modern: bilangan biner.

Konsep nol sangat penting untuk sistem yang menjadi dasar komputasi modern: bilangan biner.GettyImages Konsep nol sangat penting untuk sistem yang menjadi dasar komputasi modern: bilangan biner.

 

Sillicon Valley a la India

Ketika Anda berkendara dari Bandara Internasional Kempegowda du Bengaluru menuju pusat kota, sekitar 37km jauhnya, Anda disambut oleh beberapa tanda besar yang dipancang di tanah pedesaan India.

Mereka memproklamirkan nama-nama dewa baru India modern, perusahaan-perusahaan di garis depan revolusi digital. Mulai dari Intel, Google, Apple, Oracle, Microsoft, Adobe, Samsung dan Amazon semuanya memiliki kantor di Bengaluru, bersama dengan pahlawan digital tuan rumah, seperti Infosys dan Wipro.

Bandara yang kinclong dan mengkilap adalah indikator pertama transformasi. Sebelum industri TI datang ke Bengaluru, kota itu disebut Bangalore, dan dikenal sebagai Garden City. Sekarang Bengaluru dan dikenal sebagai Silicon Valley-nya India.

Dimulai pada tahun 1970-an sebagai taman industri tunggal, Electronic City, untuk memperluas industri elektronik di negara bagian Karnataka, telah membuka jalan bagi kota-kota maju saat ini.

Kota ini sekarang memiliki banyak taman TI dan merupakan rumah bagi hampir 40% industri TI di negara itu. Bengaluru bahkan dapat mengambil alih Sillicon Valley, dengan prediksi yang menunjukkan bahwa ia dapat menjadi satu pusat TI terbesar di dunia pada tahun 2020, dengan dua juta profesional TI, enam juta pekerjaan TI tidak langsung dan $80 miliar dalam ekspor TI.

Angka biner yang memungkinkan hal ini.
Bengaluru sekarang memiliki banyak taman TI dan merupakan rumah bagi hampir 40% industri TI di negara IndiaGettyImagesBengaluru sekarang memiliki banyak taman TI dan merupakan rumah bagi hampir 40% industri TI di negara India

Komputer digital modern beroperasi dengan prinsip dua kemungkinan, ‘on’ dan ‘off’. Negara ‘on’ diberi nilai ‘1’, sedangkan negara ‘off’ diberi nilai ‘0’. Atau, nol.

“Mungkin tidak mengherankan bahwa sistem bilangan biner juga ditemukan di India, pada abad ke-2 atau ke-3 SM oleh seorang ahli musik bernama Pingala, meskipun penggunaan ini untuk prosodi,” kata Subhash Kak, sejarawan sains dan astronomi dan Bupati Profesor di Universitas Negeri Oklahoma.

Lalbagh Botanical Gardens berada di pusat budaya dan geografis Bengaluru, simbol ‘old Bangalore’ dan merupakan rekomendasi orang lokal tentang lokasi yang harus dikunjungi di Bengaluru.

Awalnya dirancang pada 1760 dengan banyak tambahan kemudian, taman itu memiliki nuansa khas Victoria, menampilkan 150 jenis mawar dan sebuah paviliun kaca yang dibuat pada akhir 1800-an dan bermotif seperti Crystal Palace di London yang terkenal.

Lalbagh adalah harta karun di sebuah kota yang merupakan salah satu yang paling cepat berkembang di Asia, dan pengingat yang menarik tentang hari-hari ketika Bengaluru adalah tempat favorit bagi pensiunan pegawai sipil Inggris selama masa Raj.

Mereka membangun pondok-pondok kuno dengan kebun-kebun besar dan diam-diam menghabiskan masa pensiun mereka menikmati iklim yang sedang dan kondisi pertumbuhan yang ideal di kota yang sepi.

Namun Bangalore yang lama lenyap di bawah konstruksi infrastruktur yang sangat dibutuhkan dan ekspansi ambisius kota itu.

Dalam satu dekade sejak 1991 hingga 2001, Bengaluru tumbuh 38%, dan sekarang menjadi kota terpadat ke-18 di dunia dengan 12 juta orang.

Lalu lintas ini bisa dibilang yang terburuk di India, karena perencanaan infrastruktur tidak sejalan dengan perkembangan banyak taman TI dan pemasukan pekerja IT yang tidak pernah berakhir.

Kekacauan dan kemacetan itulah ciri khas dari metropolis India mencapai sesuatu dari puncak di Bengaluru, di mana itu bisa memakan waktu satu jam untuk berkendara sejauh 3 km.

Namun demikian, penduduk dengan berani berjibaku dengan kehidupan yang dekat dengan kampus-kampus teknologi tinggi – dan bahkan beberapa dari mereka menciptakan start-up, merancang perangkat lunak dan memasok dunia dengan produk-produk IT.

Sulit untuk menghitung berapa jumlah chip komputer dan bit dan program yang datang dari Bengaluru, jumlah komputer dan perangkat yang dibangun dan diberdayakan. Dan yang lebih mustahil untuk dibayangkan adalah jumlah nol dalam sistem biner yang telah diambil semua orang.

Namun semua ini dimulai di India … dari nol.

 

 

Sumber:

https://news.detik.com/bbc-world/d-4188900/dari-mana-datangnya-angka-nol?_ga=2.226959893.9684807.1535590663-1224810372.1535590663

bercermin dari nenek 73 tahun

Selasa, 29 Januari 2013
bercermin dari nenek 73 tahun

Mungkin bagi yg bekerja/kuliah di sekitaran Semanggi pasti pernah ngeliat seorang nenek yg tiap hari duduk di halte Atmajaya (bawah jembatan Benhil) berambut putih berwajah Chinesee… udah setahun belakangan ini saya penasaran bgt sama sosok nenek2 yg tiap pagi ktika saya jalan di jembatan dia sudah bertengger di halte sambul menyulam..

Sempat terlintas dia sengaja ditaro disitu karna anak2nya bekerja semua, atau mungkin dia kabur dari panti jompo, lalu menjalani hobinya dengan menyulam dijalanan… yaaa pikiran saya bercabang2 tiap kali melihat nenek itu…
Dan apa yg terjadi pagi ini…… ketika saya duduk di patas dekat jendela, seorang nenek duduk disamping saya sambil membawa 1 tas kulit dan 1 plastik besar berisi wol dan kain2.. awalnya saya hanya liat sekilas saja, saya tengok ke kiri nenek itu tampak lelah bgt… saya pun memajamkan mata karna patas segera melaju.

pas di depan RS Hermina Jatinegara, rasanya baru bgt mau bener2 tidur, si nenek itu megang tangan saya, dia kasih tau suruh bayar ongkos. Ya saya keluarkan 1 lembar 2ribu,buru2 mau lanjutin merem lg.. tapi apa daya, si nenek itu nanya2. Sekilas liat nenek itu gayanya seperti orang “berada” bajunya,celana,tas,sepatu..
saya yg biasanya ga mau bgt melek di patas, tp x ini terpaksa mau ga mau dengerin si nenek ngoceh… hehehhee…

Banyaaaaaaaak bgt omongan dy yg menyentuh hati dan ketampar bgt.. bermula dari pembahasan waktu..si nenek blg, klo di Jakarta itu telat sedikit pengaruhnya banyak bgt, bisa ga dpet tempat duduk di patas, bisa kejebak macet… saya hanya jawab, iyaa nek emang gtu kalo di Jakarta… Lanjut lah dia cerita kalo dy hari ini berangkat kesiangan, biasanya jam 5.15 udah jalan dr rumah, tapi td jam 6 dia baru berangkat.. Lalu saya tanya, emang nenek mau kemana?dengan suara ga jelas dy blg mau jualan bla bla bla hp lah… saya nangkepnya dia mau nyusulin anaknya jualan hp di Benhil.. dengan sotoy nya saya bilang, anak nenek jualan hp di pasar Benhil,qta turun nya brg nek…eh si nenek malahan keluarin isi yg di kantong plastik, dia itu jualan rajutan di bawah halte Benhil dan ternyata ini nenek2 itu adalah nenek yg bikin saya penasaran tiap pagi… dari situ makin kepo lah mau tau seluk beluk nenek sipit ini….

Alhasil dari obrolan2 pagi dari Jatinegara-Benhil dia cerita kalo dia ditinggal meninggal suaminya sejak anaknya umur 4 tahun, suaminya terkena liver, dari situ dia menghidupi anak cowonya yg tunggal. Entah awalnya tinggal dimana, Tangerang atau mana, dia bilang dulu punya usaha konveksi, dia single parents demi membesarkan anak semata wayangnya. Nah di tahun 1998 dia menjadi korban Kerusuhan, rumahnya dibakar, usahanya dijarah dan anaknya yg kuliah di Surabaya ambil jurusan kedokteran menjadi stress, padahal tahun 1998 anaknya baru selesai kuliah dan mau wisuda, tapi karena stress itu si anak menjadi diam, ga mau ngomong sedikit pun, di bawa ke psikiater ttp diem aja.. depresi dan si nenek ga cerita gimana2 lagi, 10 bulan dr kerusuhan 1998 anaknya meninggal. Si nenek skrg tnggal di Jakarta bener2 sendirian, kluarganya di Surabaya tinggal keponakan aja, tapi dia ga mau tinggal ama keponakannya yg udah berkeluarga, takut ngerepotin dan nambah beban keluarga, sedangkan 1 kponakannya lagi menetap di Amerika, semenjak 1999 dia hidup sendirian di Jakarta, bermodal dari uang seadanya dia mengontrak rumah dan buka usaha sulaman.. tapi apadaya baru berjalan, dia ketipu sama 5 org yg berniat mau ngebantu usahanya itu.. barang ilang,modal abis… dan nenek itu ngeluntang-lantung mencari kosan, dia masih meneruskan usahanya menbuat barang hasil rajutan, dia jualin, ketika udah ada modal lagi, dia mencari kontrakan, dan kali ini dia ketipu lagi sama pemilik kontrakan, barangny ditahan di dalam kontrakan, digembok dan dia harus keluar dr kontrakan itu, ga kasih tau sih alesannya kenapa, mau nanya jg ga enak, secara baru kenal..

 

Nah perubahan hidup di mulai ketika ada mahasiswa Theology yg kumpulin dana untuk nenek mengontrak rumah, mahasiswa2 itu menghampiri si nenek sambil kasih uang untuk mengontrak 1 tahun, skrg si nenek tinggal di arah Pulogadung. Dia membeli barang2 rajutan lagi, nah udah 2 tahun ini setiap pagi dia selalu berangkat dari rumah untuk berjualan hasil rajutannya di halte Atmajaya, jam 6 biasanya nenek udah stanby di halte sambil menyulam, dia jual hasil rajutannya 5000/2pcs dan skrg dibantu mahasiswa Atmajaya untuk dagangin hasilnya ke ruang kelas, pas sore uangnya dikasih ke nenek… hasilnya emang ga seberapa, yg penting bisa makan dan bisa buat ongkos si nenek sehari2.

 

Iseng2 saya tanya, emang umur nenek berapa skrg? dan dia bilang 73tahun….. dalam hati saya bilang qta beda 50 tahun umurnya, tp nenek itu masih semangat bekerja. 1 hal yg dia bilang ke saya, “qm masih muda, gpp skrg naek turun patas desak2an, kepanasan.keujanan di jalan, kerja cape.. yg penting tua nanti qm ga sperti saya skrg, udah tua gini masih cari uang, masih idup dijalanan, harus bangun pagi naek turun patas, harusnya umur saya udh pensiun nikmatin sisa hidup dgn keluarga dirumah, tapi saya sama sekali ga punya anak,suami jg udah mati”
saya hanya anggukkan kepala sambil bilang, iyaa nek… nenenk jg ati2 yg sehat yaaa…

kirain pembicaraan selesei, eh si nenek nanya anak ke berapa, udah menikah belom.. dia kasih wejangan2 yang intinya gini : ” selagi muda usaha apapun sebisa qta, biar tuanya ga pusing2 lagi, ga usah malu ama yg qta kerjain, kan ini demi hidup qta jg, mendingan susahnya sekarang deh masih banyak waktu, tenaga daripada kaya skrg udah 73 masih harus cari duit, yg penting semangat jalanin hidup jgn cepet nyerah”
yaaaaaaaaaaaa bener2 ketampar bgt pagi ini…
semoga semangat saya bisa melebihi nenek ini, pelajaran bgt buat saya,kalo yg tua, yg beda 50 tahun aja masih punya semangat membara, gmn saya yg masih 23 tahun?????? masih panjang perjalanan saya…

yukkk perempuan muda, mau kalah ama si nenek penyulam ini??? ga mau kan hidup qta sperti nenek 73 tahun ini??? ga mau kan udah tua masih nyari uang,naek turun patas… hura2 disaat muda, haru biru pas tua..

berakit2 ke hulu, tua senang kemudian… 🙂 dan qta jg ga tau umur qta ampe brp kan?????

syemangat pagiii \(^.^)/

sumber:
http://v3ko.blogspot.com/2013/01/bercermin-dari-nenek-73-tahun.html

Kontroversi Anti-Nikah Gay, Bos Mozilla Akhirnya Lengser

Kontroversi Anti-Nikah Gay, Bos Mozilla Akhirnya Lengser
Usia Eich sebagai CEO hanyalah dua minggu saja.
ddd
Sandy Adam Mahaputra, Amal Nur Ngazis
Jum’at, 4 April 2014, 10:09 Sandy Adam Mahaputra, Amal Nur Ngazis
Kepala Eksekutif Perusahaan (CEO) Mozilla, Brendan Eich
(Omicrono.com)

Follow us on

VIVAnews – Setelah mendapat kecaman dari masyarakat, Kepala Eksekutif Perusahaan (CEO) Mozilla, Brendan Eich akhirnya menyerah. Ia mundur dari kursi eksekutif perusahaan.

“Mozilla bangga memegang perbedaan standar dan kita tak bisa hidup hanya untuk diri kita sendiri,” ujar Mozilla dalam keterangan resmi di blog perusahaan melansir The Verge, Jumat 4 April 2014.

Praktis, usia Eich sebagai CEO hanyalah dua minggu saja, sejak ia menduduki kursi eksekutif pada 24 Maret lalu. Sejak ia terpilih sebagai CEO, gelombang kecaman muncul terhada Eich.

Sebabnya, ia diketahui mendukung pelarangan nikah unuk pasangan gay pada 2008 lalu. Saat itu, Eich mendonasikan US$1000 kepada gerakan melawan pendukung nikah sesama jenis itu.

“Kami tak bertindak seperti yang Anda harapkan. Kami tak bergerak cepat untuk terlibat begitu kontroversi mulai mencuat. Kami menyampaikan maaf. Kita harus lebih baik,” ujar Mozilla meminta maaf.

Dilaporkan Eich mengajukan pengunduran diri ke dewan Mozilla Foundation. Keputusan mundur itu berbeda dengan keteguhan Eich beberapa hari sebelumnya. Meski ramai kecaman, Eich yakin ia merupakan orang yang tepat sebagai CEO Mozilla.

Namun tekanan massif itu akhirnya membuat pencipta bahasa pemrograman JavaScript itu tak kuat. Kecaman muncul dari karyawan Mozilla, pengembang sampai anggota masyarakat.

Melihat situasi tak kondusif itu, perusahaan memutuskan ikut suara masyarakat. Merestui pengunduran diri Eich.

“Sudah jelas bahwa Eich tak bisa memimpin Mozilla dalam situasi seperti ini,” ujar Mitchel Baker, Ketua Eksekutif Mozilla.

Menurut Baker, seorang CEO dituntut mutlak mempunyai peran memimpin perusahaan dan kondisi Eich saat ini tidak mendukung untuk hal itu.

Sejauh ini Mozilla belum memutuskan siapa pengganti Eich. Dilaporkan sebelum memilih Eich pada akhir bulan lalu. perusahaan telah mewawancarai 25 kandidat untuk menduduki kursi CEO. (adi)

Sumber:
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/493440-anti-pernikahan-gay–bos-mozilla-enggan-mundur-dari-ceo

Studi Fisika Ungkap Kedahsyatan Kapal Nabi Nuh

Studi Fisika Ungkap Kedahsyatan Kapal Nabi Nuh
Terbukti, bahtera Nuh mampu memuat 2,15 juta domba tanpa tenggelam.

Jum’at, 4 April 2014, 07:49 Anggi Kusumadewi, Amal Nur Ngazis

VIVAnews – Kisah Nabi Nuh bersama umatnya mengarungi banjir besar di masa lalu telah tertulis dalam kitab suci. Cerita itu menjadi pelajaran moral. Namun bagi empat mahasiswa Fisika Universitas Leicester, Inggris, kisah kapal Nabi Nuh itu sungguh membuat penasaran.

Daily Mail, Jumat 4 April 2014, melansir bahwa Oliver Youle, Katie Raymer, Benjamin Jordan, dan Thomas Morris kemudian meneliti struktur kapal Nabi Nuh sesuai naskah kuno pada kitab Injil. Keempat mahasiswa itu mengkaji sisi fisika bahtera Nabi Nuh.

Menurut naskah kuno, kapal Nabi Nuh memiliki dimesi yang tepat, dengan panjang 300 hasta atau setara 137,1 meter, lebar 50 hasta atau 22,86 meter, dan tinggi 30 hasta atau 13,7 meter. Dimensi kapal itu didesain untuk bertahan dari terjangan banjir besar.

Studi keempat mahasiswa tersebut membuktikan, ukuran yang disampaikan dalam kitab suci cukup cocok untuk mengarungi banjir. “Kami tak berpikir Alkitab menjadi sumber informasi yang akurat secara ilmiah. Jadi kami cukup terkejut saat kami berhasil. Kami tak membuktikan bahwa hal itu benar, tapi konsep itu (kapal Nabi Nuh) pasti akan berhasil,” kata Morris.

Kelompok mahasiswa itu mendasarkan perhitungan mereka pada sebuah buku, The Genesis Flood karya Dr Morris dan Dr Whitbomb. Buku itu menunjukkan bahwa bahtera Nuh mampu menyimpan sekitar 35 ribu spesies.

Sementara perhitungan empat mahasiswa Universitas Leicester tersebut menyebutkan, kapal Nuh bisa memuat 2,15 juta domba tanpa tenggelam terseret banjir besar.

Dengan modal dimensi tersebut, menurut Morris cs, nyatanya daya apung kapal Nabi Nuh mendukung untuk bertahan dari terjangan banjir meski disesaki banyak binatang.

Dengan demikian, dimensi kapal dalam kitab suci tepat alias memungkinkan Nabi Nuh dan umatnya untuk dapat mengapung bersama dengan semua binatang yang mereka bawa.

Temuan keempat mahasiswa itu telah dipaparkan dalam makalah untuk Jurnal Fisika Departemen Fisika dan Astronomi Universitas Leicester.

Sumber:
http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/494015-studi-fisika-ungkap-kedahsyatan-kapal-nabi-nuh?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook

Paus Fransiskus minta Vatikan dukung kelompok kaum gay

Reporter : Pandasurya Wijaya | Selasa, 11 Maret 2014 13:32

Merdeka.com – Kardinal senior Timothy Dolan di Gereja Vatikan mengatakan di masa mendatang Paus Fransiskus ingin Vatikan mendukung kelompok gay.

Dia juga ingin Gereja Katolik mempelajari kelompok sesama jenis ketimbang mengecam mereka, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Senin (10/3).

Kardinal Dolan mengatakan kepada pemirsa televisi Amerika Serikat, Paus Fransiskus ingin para pemimpin gereja mempelajari apa alasan yang mendorong terjadinya kelompok kaum gay.

“Dia bilang, ‘daripada mengecam mereka, lebih baik mempertanyakan mengapa itu terjadi pada sebagian orang’,” kata Dolan.

Dalam wawancara peringatan setahun menjabat sebagai pemimpin umat Katolik sedunia dengan surat kabar Italia Corriera della Sera, Paus menegaskan sikap Vatikan yang menolak pernikahan sejenis namun beberapa jenis himpunan kelompok gay bisa diterima gereja Katolik.

Paus sebelumnya pernah mengatakan pernikahan adalah antara laki-laki dan perempuan tapi dia menambahkan, “Kita juga harus melihat kasus lain yang berbeda dan mengevaluasinya.”

Beberapa negara, kata Paus, menerima kelompok-kelompok masyarakat tertentu untuk menempatkan mereka setara dalam pelayanan hukum dan ekonomi, termasuk kelompok atau himpunan kaum gay.

Semasa masih menjadi Uskup Agung di Argentina, Paus Fransiskus termasuk salah satu pemimpin gereja paling keras menentang pengesahan pernikahan kaum sejenis. Dia menyebut rencana pengesahan aturan membolehkan pernikahan sejenis itu sebagai “serangan berbahaya terhadap rencana Tuhan”.
[fas]

Sumber:
http://www.merdeka.com/dunia/paus-fransiskus-minta-vatikan-dukung-kelompok-kaum-gay.html