Home » cina » KATA CINA YANG BERMASALAH

KATA CINA YANG BERMASALAH

Dikutip dari buku:
Judul : BAHASA INDONESIA YANG BAIK, YANG GIMANA GITU
Pengarang : Lie Charlie
Penerbit : PT Gramedia, Jakarta.
Halaman : 140-142
——————————————————————————-

NANAH DALAM BAHASA INDONESIA:
KATA CINA YANG BERMASALAH

“Cina lu!” kata seseorang. Orang yang disebut Cina itu dalam konteks masyarakat Indonesia akan, paling tidak, merasa sakit hati. Percayalah. Apabila dipakai untuk memaki atau memperolok-olok, kata Cina barangkali sama kasarnya dengan kata (maaf) “monyet” atau “lonte”, atau kata kasar apa pun yang mampu Anda pikirkan, bahkan lebih kasar. Demikianlah, kata Cina dalam bahasa Indonesia sebenarnya kata yang bermasalah, sehingga perlu segera diganti. Sekadar pembanding, bagi orang yang bersekolah, semestinya kata bule atau Jawa dalam ucapan, “Dasar bule!” atau “Jawa kowe!” pun sudah dianggap tidak senonoh.

Bukankah di seluruh dunia ras kuning di atas disebut begitu? Bukankah dalam bahasa Inggris pun mereka ini diwakili oleh kata China atau Chinese? Betul, tetapi vas bunga pun dibilang china! Lagi pula di luar Indonesia kata Cina memang tidak bermasalah. Jika Anda menginginkan ilustrasi lain, kata Cina dalam bahasa Indonesia kira-kira sama jeleknya dengan kata (sekali lagi, maaf) Negro dalam bahasa Inggris-Amerika. Di sini kita agak bebas menyebut kata Negro tanpa merasakan adanya kesan rasial, tetapi jangan berani coba-coba pakai kata tersebut, umpamanya, di daerah Bronx atau Harlem di Amerik sono. Pasti kita bakal menyesal lalu bertanya-tanya, “Apa salahnya bilang Negro?”

Karena itu kata Negro lalu diganti dengan kata Black, kemudian diganti lagi menjadi Color. Mungkin pembedaan itu seolah-olah mirip dengan pembedaan jenis televisi saja layaknya, maka sekarang dipergunakanlah kata Afro-American untuk menyebut ras berkulit gelap ini. Orang yang sinis tetap tidak mau mengerti dan terus saja bertanya, “Lalu apa bedanya?” Barangkali mereka memang tidak akan pernah mengerti, sebab mereka tidak punya hati.

Tulisan ini tidak berpretensi untuk membela etnis tertentu atau mencela etnis yang lain. Pun jauh dari niat mengaitkannya dengan politik suatu orde kepemerintahan untuk mendeskriditkan salah satu etnis dalam bangsa yang besar ini. Artikel kecil ini hanya membicarakan nilai sosio-moral hakiki yang disandang sebuah kata. Jangan lagi berpendapat bahwa semua kata sama saja. Terlalu naif. Bukankah kita tidak mempergunakan kata “kau” ketika berbicara dengan ayah kita? Bukankah buruk jika bertutur, “…Batak yang satu ini…”? Bukankah ada Bung Karno, tetapi tidak pernah ada Bung Harto?

***

Belakangan ini ada kecenderungan simpatik mengganti kata Cina dengan Tionghoa. Sikap ini sangat dihargai. Kelompok etnis Tionghoa pun nampaknya memang lebih senang disebut begitu dalam bahasa Indonesia. Apa susahnya mulai sekarang kata Cina diganti saja dengan kata Tionghoa? Siapa yang berkeberatan dengan istilah suku Tionghoa? Adakah orang yang sakit hati bila diteriaki “Tionghoa kau!?” Lagi pula kata Tionghoa atau Tiongkok memang pernah dipakai sebagai salah satu kata penunjuk ras atau kata geografi dalam bahasa Indonesia yang bersifat sangat spesifik, sebagaimana penggunaan kata Belanda, Selindia Baru, Papua Nugini, dan Prancis untuk memadani kata Netherland (Holland), New Zealand, New Guinea, dan France dalam bahasa Inggris.

Kiranya kita tidak perlu bercapek-capek beradu argumen dengan menelusuri lagi etimologi kata Cina atau Negro atau kata bermasalah yang lain. Penggunaan kata apa pun yang bisa menimbulkan perselisihan dan tidak menyejukkan nurani sebaiknya dihindarkan, titik. Amar ma’ruf, nahi mungkar merupakan teladan di atas banyak teladan.

Ada beberapa kata lain berkaitan dengan nama suatu suku bangsa yang secara spesifik mengacu kepada sifat tertentu. Puak Melayu mencirikan “kelambanan”. Suku Jawa itu orangnya bukan main mbulet. Asal tahu saja, Madura itu berasosiasi dengan “temperamen keras”. Kaum Yahudi berkorelasi dengan sifat “pelit” atau “licik”. Bangsa Polandia mencerminkan sifat “telat-berpikir”. Atau “Buatan Indonesia” yang…ah, tahu sendirilah. Namun contoh-contoh cacat bahasa tersebut untuk konteks Indonesia tidak menorehkan stigma sedalam kata Cina.

Suatu kata baru bermasalah bila telah dipakai untuk memperolok-olok. Ungkapan setara dengan “Cina ngamuk”, “Cina loreng”, atau “Cina ngepet”, dan lain-lain, meskipun diucapkan sekadar untuk main-main, tidak sedaplah didengarnya. Itulah sebabnya, kita memerlukan adanya pendidikan budi pekerti di sekolah, di rumah, dan di mana-mana. Sebaliknya, tentu orang Tionghoa pun tidak boleh mengejek suku lain dengan tidak semena-mena.

%d bloggers like this: