Home » Bhakti Suryawangsa » Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG (1)

Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG (1)

Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG
Kamis, 24 Mei 2007
Oleh : Eva Martha Rahayu

Sumber:
http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=6008&pageNum=1

Tak puas hanya berkutat di bisnis rokok, mulai 1987 keluarga pemilik Gudang Garam berekspansi ke sektor lain. Bisnis apa saja yang dirambah di luar bisnis inti?

Untuk kesekian kali Majalah Forbes menempatkan Rachman Halim (pemilik PT Gudang Garam Tbk./GG) dan keluarga dalam daftar orang terkaya dunia 2007. Keluarga pengusaha rokok asal Kediri, Jawa Timur itu berada di posisi ke-538 dengan total kekayaan US$ 1,9 miliar atau setara Rp 17,29 triliun. Maklum, meski telah tergerser oleh PT HM Sampoerna Tbk., tahun lalu GG masing sanggup membukukan omset Rp 26,3 triliun.

Mesin uang keluarga GG sebetulnya tak hanya rokok, tetapi juga sejumlah bisnis lain. “Sejak 1987 Gudang Garam melakukan diversifikasi bisnis di luar rokok,” kata Thomas Wibisono, pengamat bisnis dari Pusat Data Business Indonesia. Mula-mula mereka menjajal bidang properti pariwisata dengan mengelola kawasan wisata Tretes, Malang, melalui dua anak perusahaan: PT Suryaraya Indah dan PT Suryawisata. Selanjutnya, mereka membentuk dua anak usaha baru: PT Suryaduta Cahaya Perkasa (proyek gedung perkantoran) dan PT Taman Mustika Doho (pengembang real estat).

Setelah properti, GG memasuki industri makanan dan minuman. Ini ditandai dengan kepemilikan saham 20,7% di PT Perkebunan Lijen — bergerak dalam pengelolaan perkebunan kopi arabica di Banyuwangi. Kemudian pada 1993, GG berinvestasi di PT Adhiguna Multi Planextrak (produsen essence rokok) dan PT Lotte Indonesia (produsen permen karet). Juga, PT Selowarih, PT Taman Sriwedari dan PT Halim Wonowidjojo. Bisnis air minum dalam kemasan juga disambar GG dengan mengibarkan PT Tirtamas Megah yang berlokasi di Pasuruan. Beberapa merek air minum dalam kemasan (AMDK) diproduksi, misalnya Total, Zangrandi Tawar, Atlantic Air Minum dan Sprit AMDK. Menurut Eko Susilo dan Go Siang Chen, keduanya mantan eksekutif Tirtamas, sejak 2001 bisnis AMDK keluarga GG melesat. Mereka menuturkan, untuk segmen AMDK cup di Jawa Timur, Tirtamas memimpin pasar dengan pangsa signifikan. Contohnya, pada Februari 2001-Maret 2002, pangsa pasar Tirtamas untuk AMDK cup mencapai 53,8%.

Sektor keuangan tak luput dari bidikan keluarga GG. Tahun 1989 mereka mendirikan PT Halim Indonesia Bank. Usaha bank ini bertujuan menampung dan memberikan kredit kepada para agen rokoknya. Porsi kepemilikan saham keluarga GG tidak besar di bank ini, cuma 7,5% (Rachman Halim) yang akhirnya dijual kembali semuanya ke Industrial & Commercial Bank of China pada 30 Desember 2006.

Untuk sektor perdagangan, GG memiliki afiliasi dengan 10 perusahaan, yakni PT Adilaksa Manunggal, PT Karya Niaga Bersama, PT Madistrindo Abadi, PT Madistrindo Makmur, PT Madistrindo Prima, PT Pandya Perkasa, PT Surya Bhakti Utama, PT Surya Jaya Bhakti, PT Surya Kerta Bhakti dan Enso Surya Pte. Ltd.

Ada juga bidang bisnis mineral nonmetalik dengan bendera PT Pamenang Panchadatu, kimia (PT Panverta Cakrakencana dan PT Trias Sentosa) plus kertas (PT Primabox Adiperkasa, PT Surya Pamenang, PT Surya Zig Zag) — lihat Pohon Bisnis Grup GG. GG masuk pula ke bidang kehutanan melalui PT Finanntara Intiga, tapi kini sudah didivestasi.

Menurut Thomas, investasi terakhir yang dimasuki GG dalam kaitan grup adalah PT Panverta Cakrakencana, PT Cikal Sarana Hygienis dan PT Primabox Adiperkasa. Panverta ditujukan untuk memperkuat divisi pengemasan. Primabox yang didirikan dengan investasi Rp 12 miliar untuk memproduksi carton box di Pasuruan. Adapun Cikal yang membidangi makanan telah dilikuidasi pada Juli 1999.

%d bloggers like this: