Home » Bhakti Suryawangsa » Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG (2)

Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG (2)

Bisnis-bisnis Lain Keluarga GG
Kamis, 24 Mei 2007
Oleh : Eva Martha Rahayu

Sumber:
http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=6008&pageNum=2

Bisnis-bisnis keluarga GG tersebut dipayungi 9 holding company. Perusahaan yang dijadikan perusahaan induk adalah PT Bhakti Suryawangsa, PT Hari Mahardika Usaha, PT Intisurya Corpora, PT Lakta Utama, PT Surya Investindo Perkasa, PT Suryaduta Investama, PT Suryamitra Kusuma, PT Suryani Budimandala serta PT Suryasapta Pramesti.

Sebetulnya, hingga awal 1970 saja, dikatakan Thomas, GG cuma berkonsentrasi pada bisnis produksi rokok keretek. Namun, pada 1973 raksasa rokok ini mendiversifikasi usaha yang erat kaitannya dengan bisnis utamanya itu. Lihatlah, GG mendirikan PT Selowarih untuk memproduksi rokok. Lantas, PT Taman Sriwedari yang khusus memproduksi sigaret keretek kelobot. Perusahaan ini pun menerjuni industri paper cones. Berikutnya, PT Halim Wonowidjojo, yang menghasilkan produk rokok putih pada 1974 dan 1979.

Tahun 1986, keluarga GG mendirikan PT Surya Zig Zag untuk memproduksi kertas kemasan sigaret dengan menggandeng Probosutedjo. Namun, pada 1993 keluarga GG mengambil alih kepemilikan Probosutedjo di perusahaan itu. Tahun 1990, mereka membentuk PT Surya Pamenang untuk memproduksi coated dan uncoated board yang diperkuat dengan hadirnya PT Primabox Adiperkasa pada 1994.

Tahun 1990, Sigid Sumargo Wonowidjojo tercatat sebagai pemegang saham 38,7% di PT Trias Sentosa Tbk. (perusahaan patungan yang pemegang sahamnya antara lain Grup Panggung). Afiliasi ini menguntungkan GG karena Trias memproduksi OPP film yang digunakan untuk lapisan plastik pembungkus rokok. Selanjutnya, kepemilikan saham keluarga GG di sini menggunakan nama PT Adilaksa Manunggal. “Terhitung tahun 1998 dan seterusnya, investasi GG lebih banyak dilakukan secara pribadi oleh masing-masing anggota keluarga GG,” Thomas menjelaskan.

Susilo Wonowidjojo bersama istrinya, Melinda Setyo (almarhum), termasuk yang paling aktif berbisnis. Aktivitas bisnis mereka diawali dengan masuknya Melinda ke PT Hair Star Indonesia dengan kepemilikan saham 50%. Ini merupakan pabrik rambut palsu yang bermarkas di Sidoarjo. Sementara itu, Susilo mengawali bisnis pribadinya dengan mendirikan PT Panglima Pamenang, bermitra dengan, antara lain, Hadi Kristanto Nitisantoso. Perusahaan dagang itu memiliki penyertaan modal 50% di PT Mitragemilang Intiperkasa pada medio 1992. Pendirian usaha baru terus berlanjut. Hingga akhir 1992, nama-nama perusahaan lain yang ada dalam genggaman Susilo adalah PT Agro Green Up (pupuk kompos), PT Dutikon Sejatera (kontruksi), PT Perfectindo Pratama Plastic (botol palstik), PT Prasidha Intijaya (properti) dan PT Jatipurna Artindo Design (komponen bahan bangunan dari kayu).

Bisnis pribadi Susilo makin besar setelah PT Matahari Kahuripan Indonesia (Makin) yang didirikan pada 1993 mengambil alih 10 unit usaha milik Grup Antang yang sebelumnya dimiliki keluarga Mochtar Ramlie. Ke-10 usaha itu ada yang bergerak di pertanian-perkebunan (PT Antang Ganda Utama & PT Wana Yasa Kahuripan Indonesia), kehutanan-kayu (PT Antang Cahaya Baru, PT Antang Kalimantan, PT Antang Permai Plywood Industri, PT Antang Permata Timber, PT Rimba Berlian Hijau, PT Wana Inti Kahuripan Intiga), pertambangan (PT Mohusindo) dan kimia (PT Indoraya Everlatex).

Investasi pribadi Susilo yang cukup besar juga ada di PT Pamenang Highlands, PT Soka Jati Luwih dan PT Karyadibya Mahardika. PT Pamenang Highlands membangun kawasan perumahan di Pasuruan dengan nilai investasi Rp 126,5 miliar, sedangkan PT Soka Jati Luwih merupakan pengembang kawasan wisata di Tabanan, Bali, yang bernilai Rp 199,5 miliar. Adapun PT Karyadibya Mahardika adalah pabrik sigaret keretek tangan dengan kapasitas produksi 2,5 miliar batang/tahun dan sigaret keretek mesin (15 miliar batang/tahun) dengan nilai investasi Rp 734,25 miliar. Juga ada usaha logam dasar melalui PT Pratama Enginanusa dan PT Pratama Eraktanindo.

%d bloggers like this: