Home » bonus Lebaran » Gaya Hidup Berlebih Karena Alami Degradasi Budaya

Gaya Hidup Berlebih Karena Alami Degradasi Budaya

suarasurabaya.net| Menjelang Lebaran, terdapat fenomena unik yang terjadi di masyarakat. Yakni di saat mudik, masyarakat ingin penampilannya terlihat berkecukupan. Ini tidak hanya terlihat pada masyarakat perkotaan tetapi juga terjadi di daerah-daerah.

Mengenai fenomena gaya hidup yang berlebihan menjelang Lebaran ini, BAGONG SUYANTO Sosiolog FISIP Unair mengatakan dalam istilah sosial pada Lebaran sekarang ini mengalami degadrasi budaya atau entropi budaya. Ini terjadi jika sebuah budaya atau tradisi lebih mementingkan tampilan kulitnya daripada substansinya.

“Jadi saat Lebaran masyarakat tidak terlalu mementingkan silaturahminya, tetapi justru lebih banyak menonjolkan keinginannya untuk tampil sudah lebih sukses dibanding tahun sebelumnya. Makanya mereka biasanya menjelang Lebaran membeli baju, sepeda motor atau mobil baru semua dalam rangka untuk menunjukkan performance-nya kepada orang lain,” jelas BAGONG pada Suara Surabaya, Jumat (11/09).

Menurut BAGONG hal ini juga dapat muncul karena keinginan itu secara realistis hanya bisa dipenuhi menjelang Lebaran karena mendapat bonus gaji menjelang Lebaran. “Padahal sebetulnya kalau masyarakat mau lebih pandai mengatur, bonus ini bisa menjadi investasi untuk kepentingan lain yang lebih substansial,” katanya menyayangkan.

Tetapi menurut BAGONG kebanyakan masyarakat sekarang menggunakan bonus ini seperti euphoria saja. Bahkan ada indikasi munculnya perilaku yang disebut perilaku konsumsi yang sinergistik (synergistic consumption), artinya orang membeli sesuatu tetapi juga membeli hal lain yang berkaitan.

“Misalnya saat seseorang membeli mobil, ia juga akan membeli aksesorinya. Jika membeli baju, ia juga akan membeli sepatu dan aksesoris lain untuk melengkapi penampilannya,” kata BAGONG.

BAGONG mengumpamakan suasana Lebaran sekarang seperti Pilkada / Pemilu, yang membuat perputaran uang cenderung naik sehingga sektor riil bergerak. Jika dilihat sisi baiknya memang saat perputaran uang di pasar makin tinggi, tentu efeknya bisa kemana-mana.

“Hanya masyarakat harus menakar apakah pengeluaran itu memang betul-betul proporsional dengan penghasilan. Jangan sampai Lebaran menjadi sarana katarsis orang yang hidup susah sekian bulan untuk balas dendam. Sementara soal nanti setelah Lebaran harus membayar hutang sering tidak dipikir,” imbuh BAGONG.

Terlebih kalau kekuatan kapital menangkap peluang ini sebagai momen, yang dicontohkan BAGONG seperti saat semua mall menawarkan diskon besar-besaran dikhawatirkan justru dapat memicu konsumen yang hedonis.

BAGONG mengatakan gaya hidup berlebih saat Lebaran ini memang cukup sulit dirubah. Ini karena selain mempunyai makna keagamaan Lebaran juga mempunyai makna sosial. Dan momen ini selalu diincar oleh kekuatan kapitalis sebagai peluang agar orang mengeluarkan uang untuk berbelanja.

“Selama masyarakat tidak dapat melawan hegemoni kekuatan kapitalis, pasti susah untuk merubah kembali ke gaya hidup yang lebih proporsional. Namun ini juga bukan berarti berbelanja itu dilarang, hanya saja harus proporsial,” lanjutnya.

BAGONG memberikan tips untuk mengubah hal ini dengan melakukan counter culture dan menawarkan nilai-nilai baru supaya masyarakat bisa menghitung aspek keuangannya secara jangka panjang.

“Caranya paling tidak masyarakat harus disadarkan esensi Lebaran yang tidak hanya mementingkan penampilan saja. Lebaran harus juga lebih banyak dimanfaatkan untuk aspek sosial misalnya dengan menyumbang, dll,” kata BAGONG.(far/ipg)

Sumber:
http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=9cd70859b28a6c9737ff616c6b1f3e01200969224

%d bloggers like this: