Home » dokter » Sumpah Dokter yang Banyak Terlupakan

Sumpah Dokter yang Banyak Terlupakan

Rabu, 24/02/2010 14:10 WIB
Sumpah Dokter yang Banyak Terlupakan

Nurul Ulfah – detikHealth

Ilustrasi (Foto: avcilarhospital)
Jakarta, Dunia kedokteran Indonesia sedang mendapat sorotan serius baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sumpah dokter banyak yang terlupakan dan jika Hipocrates masih hidup mungkin akan sedih melihat sumpahnya dulu yang tidak lagi dipegang teguh para dokter.

Dalam rangka Dies Natalis Universitas Indonesia ke 60 Tingkat Fakultas Kedokteran, para dokter diingatkan lagi dengan sumpah dokter yang pernah diucapkan ketika lulus dari sekolah kedokteran.

Sumpah dokter: “Saya bersumpah bahwa saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya. Saya akan memelihara sekuat tenaga martabat, tradisi luhur jabatan kedokteran. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter. Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh, supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian atau kedudukan sosial. Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya. Teman sejawat akan saya perlakukan sebagai saudara kandung. Saya akan menghormati setiap insani mulai dari saat pembuahan. Sekalipun diancam saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya”.

Sumpah dokter tersebut disadur dari sumpah Hipocrates, yakni tokoh yang disebut sebagai Bapak Kedokteran, namun ada beberapa bagian yang sudah dikurangi.

Asal tahu saja, Hipocrates adalah dokter yang merupakan anak seorang dokter dan memiliki 2 anak yang juga seorang dokter. Jadi Hipocrates memang seorang dokter yang berada di lingkungan kedokteran dan benar-benar mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan.

Salah satu kalimat yang terdapat dalam sumpah Hipocrates adalah ‘Jika perlu saya akan membagikan hartaku untuk kepentingan orang lain..’.

Tapi sayangnya sumpah itu sepertinya tidak tertancap baik dalam jiwa beberapa dokter saat ini, karena banyak yang menjunjung prinsip UUD (Ujung Ujungnya Duit).

Menurut Prof dr Menaldi Rasmin, SpPK FCCP, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia, setiap dokter seharusnya belajar dari Hipocrates.

“Jika tidak ingin pekerjaan dokter ini jadi serampangan maka butuh tuntunan dalam sejarah. Mari kita belajar dari sejarah dan Hipocrates,” kata Prof Menaldi dalam acara temu wicara di aula FKUI Salemba Jakarta, Rabu (24/2/2010).

Konsil Kedokteran Indonesia menyebutkan setidaknya 7 standar kompetensi yang harus dimiliki seorang dokter yaitu:
1. Memiliki komunikasi efektif
2. Keterampilan klinis yang tajam
3. Landasan ilmiah kedokteran
4. Manajemen masalah kesehatan
5. Pengelolaan informasi
6. Perbaikan terus menerus
7. Memiliki etika, moral dan profesionalisme dalam bekerja.

“Barangkali dokter Indonesia kuat dalam butir 2 dan 3 tapi kurang kuat pada butir 1 dan 5. Untuk butir 7, silakan tanya diri masing-masing,” kata Prof Menaldi.

Menurut WHO, seorang dokter yang baik harus memiliki kualitas bintang 5, yaitu: Memiliki pelayanan yang baik, tegas dan berani mengambil keputusan, komunikator yang handal, mampu memimpin komunitas dan seorang manajer yang baik.

“Namun standar tersebut sepertinya sudah dikristalisasi menjadi 3, yaitu hanya menyembuhkan sangat kadang-kadang, hanya membantu melepaskan keluhan sekali-kali dan membantu memberi kenyamanan pasien secukupnya. Tapi saya yakin semua dokter niatnya lurus, ngapain sekolah mahal-mahal kalau untuk niat jahat,” tutur Prof Menaldi.

Menurut Irjen Pol (P) Dr dr H Hadiman, SpKO, SH, MBA, MSc, di tengah ‘zaman edan’ ini, sumpah dokter harus diingat kembali dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar teori saja.

“Kalau perlu dipampang terus, bukan cuma dibaca saja. Dokter itu hebat, jadi harus dijunjung tinggi,” kata Dr Hadiman.(fah/ir)

Sumber:
http://health.detik.com/read/2010/02/24/141039/1305915/763/sumpah-dokter-yang-banyak-terlupakan?993306755

%d bloggers like this: