Home » sepakbola » Kemana Pemuda Tionghoa?

Kemana Pemuda Tionghoa?

Kemana Pemuda Tionghoa?
OPINI Dedi Rinaldi| 26 Oktober 2010 | 14:1786213

Sumber:
http://muda.kompasiana.com/2010/10/26/kemana-pemuda-tionghoa/

Sebuah Tulisan Untuk Mengenang Sumpah Pemuda 28 Oktober

Sudah puluhan tahun berlalu, tapi kisah spektakuler tim Indonesia menahan Uni Sovyet 0-0 di babak perempatfinal Olimpiade 1956 masih terekam indah di kepala Tan Liong Houw. Bahkan, cerita rahasia dibalik sukses itu pun tetap tersimpan rapi di benak kakek yang dulu berjuluk “macan Betawi” ini.

“Dengan berat hati saya mengatakan mengapa Indonesia bisa menahan Sovyet. Saya waktu itu bermain keras. Siapapun yang dekat, saya hantam,” kata Liong Houw yang punya nama asimilasi Latif Harris Tanoto kepada saya pada suatu sore di tahun 2005.

Uni Sovyet kala itu merupakan kekuatan baru yang sangat ditakuti dunia. Sovyet antara lain diperkuat kiper Lev Yashin, yang kemudian menjadi legenda dunia, lalu pemain-pemain hebat sekelas Igor Netto, Anatoly Bashashkin, dan Boris Tatushin.

Sementara Indonesia diperkuat Maulwi Saelan, Chaerudin Siregar, Ramang, Aang Witarsa, Ramlan Yatim, yang bahu-membahu bersama Liong Houw, Kwee Kiat Sek, Thio Him Tjiang, dan Beng Ing Hien.

Sayang, kisah patriotis Indonesia harus terhenti di partai ulangan tiga hari kemudian. Dengan kondisi kaki remuk dan kelelahan karena habis-habisan di partai pertama, Liong Houw dkk. ditelan 4-0. Sovyet sendiri kemudian melaju meraih medali emas Olimpiade Melbourne.

Celakanya pula, semangat patriotisme di Melbourne 1956 itu kemudian seperti teronggok dibalik terali sejarah. Bukan hanya dari sisi prestasi sepakbola nasional di percaturan dunia. tapi juga sirnanya semangat kontribusi satu etnis pada tim nasional, yaitu para pemuda Tionghoa.

Kontribusi para pemain-pemain etnis Tionghoa buat sepakbola Indonesia tidak berlanjut seperti cabang Bulutangkis. Sebuah fakta yang menyesakkan karena sejarah sepakbola Indonesia tak bisa dipisahkan dari eksistensi perkumpulan olahraga (POR) yang dimotori para warga keturunan.

Klub Sepakbola

Awalnya perkumpulan dijadikan sebagai ajang sosialisasi para warga keturunan atau kelompok etnis tertentu. Seiring perkembangan jaman, perkumpulan akhirnya lebih populer dikenal sebagai klub sepakbola.

Pada awal 1900 hingga akhir 60-an, ada banyak POR yang hidup di Tanah Air. POR yang muncul di era itu sebagian besar didirikan oleh etnis Tionghoa. Tidak aneh, karena warga Hoakiau paling besar jumlahnya dan tersebar di berbagai daerah ketimbang etnis lain seperti Arab, Eropa, atau India.

Salah satunya adalah Tiong Hoa Oen Tong Hwee (THOTH), yang berdiri pada 15 Desember 1905. Awalnya POR ini cuma mengutamakan cabang atletik saja. Belakangan dengan semakin besarnya peminat, maka sayap dikembangkan ke sepakbola, bola sodok, dan tenis.

Masih di Batavia, pada 20 Februari 1912 berdiri pula sebuah klub sepakbola dari etnis sama yakni Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), atau juga dikenal dengan nama Pa Hua FC. Tapi pada 2 Agustus 1914 oleh para pendirinya THHK diubah menjadi Union Makes Strength (UMS), dan kemudian THOTH ikut melebur ke dalamnya.

Pada masa jayanya, UMS kerap merajai kompetisi Persija dan banyak menyumbangkan pemainnya bagi Persija maupun tim nasional Indonesia. Diantaranya, kiper A. W. van der Vin, Djamiat Dhalhar, Chris Ong, Thio Him Tjiang, Kwee Kiat Sek, sampai Mulyadi dan Surya Lesmana.

Ada juga perkumpulan bernama Chun Hwa Tjing Nen Hui, yang kini dikenal sebagai Tunas Jaya. Mereka antara lain menelurkan Liong Houw, Kian Gwan, dan Wim Pie.

Di Surabaya, terdapat klub Tiong Hwa dengan pemain The San Liong, Beng Ing Hien, dan Phoa Sian Liong -yang kemudian dikenal sebagai Yanuar Pribadi–. Para arek Surabaya ini kerap dipasang sebagai pemain nasional.

Liong Houw dan pemuda keturunan Tionghoa lainnya memang tak pernah berkoar-koar mengumandangkan “Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Bertanah air yang satu, tanah air Indonesia. Berbahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Mereka lebih memilih mengimplementasikan sumpah sakti para pemuda yang dicetuskan pada 20 Oktober 1928 itu lewat prestasi sepakbola ketimbang ngomong doang.

Lion Houw, The San Liong, Kwee Kiat Sek, Bee Ing Hien misalnya, malah telah membela Merah Putih sejak Asian Games I di New Delhi, India pada 1951. Berlanjut di Asian Games II 1954, Olimpiade Melbourne 1956, Pra Piala Dunia 1957, Asian Games III 1958, Pra Olimpiade 1960, sampai Asian Games IV 1962.

Hingga era 60-an, pemain-pemain keturunan Tionghoa masih bersliweran, kendati suasana politik saat itu mulai menggelisahkan dengan munculnya PP-10, yang membuat ribuan Hoakiau harus keluar dari Indonesia.

Tapi puncaknya adalah tumbangnya rezim Orla berganti menjadi Orba, yang ditandai huru-hara besar G-30S PKI pada 1965. Situasi ini benar-benar menjadi pemicu surutnya pemuda Tionghoa berkiprah.

Sejak peristiwa besar itu etnis Tionghoa praktis mulai menjauhi dunia sepakbola. Mungkin, karena PKI diidentikan dengan etnis ini sehingga warga Tionghoa seperti takut melakukan aktivitas massal di ruang terbuka.

Sebenarnya, peristiwa hitam dalam sejarah negeri ini tidak lantas membuat jeri seluruh warga Hoakiau. Terbukti, hingga awal 70-an, warga keturunan masih bisa muncul. Namun, kiprah pemain etnis Tionghoa di tim nasional seperti terputus setelah Mulyadi dan Surya Lesmana habis.

Memang sempat muncul Tanoto bersaudara, Budi dan Wahyu — keduanya anak Tan Liong Houw–, tapi kiprah mereka cuma sekilas di tim nasional dan di Persija. Tidak fenomenal seperti sang ayah.

“Sekitar 1973, ketika Mulyadi dan Surya Lesmana selesai karirnya di tim nasional maka tak ada lagi pemain etnis Tionghoa yang muncul. Pesepakbola etnis ini tak punya penerus di tim nasional. Hal ini jelas amat disayangkan,” kata Almarhum Ronny Pattinasarani, pemain timnas di era 70 hingga 80-an.

Pragmatis

Lantas mengapa etnis Tionghoa kemudian tetap menutup diri dari sepakbola kendati zaman telah berubah?

Liong Houw memberikan dua jawaban. Pertama, masih dirasakannya sentimen rasial yang kuat oleh etnis Tionghoa dalam hidup bermasyarakat.

“Hal ini sudah berlangsung sejak dulu. Saat jadi pemain, saya sering diteriaki Cina…Cina. Bahkan saya pernah dianggap sebagai mata-mata Cina. Rasa sentimen itu masih berlangsung hingga kini. Ada sebagian masyarakat yang belum bisa menerima etnis Cina sepenuhnya.”

Hal kedua, menurut Liong Houw, adalah kebijakan diskriminatif yang diberlakukan pemerintah hingga saat ini. “Pemerintah masih membedakan masyarakat pribumi dan non pribumi, keturunan dan bukan keturunan. Mengapa harus dibedakan begitu? Padahal kita semua rakyat Indonesia. Selama dua faktor di atas masih berlangsung, sulit bagi etnis Tionghoa untuk kembali dan mau berprestasi di lapangan hijau.”

Jika Liong Houw menilik dari aspek sosial dan kebijakan pemerintah, maka mantan Sekretaris Yayasan UMS, Michael Chandra yang kini telah almarhum, lebih melihatnya dari cara berpikir etnis Tionghoa yang pragmatis.

“Umumnya etnis Tionghoa beranggapan sepakbola tak bisa diandalkan sebagai sandaran hidup. Jadi kebanyakan orangtua lebih menganjurkan anak-anaknya untuk bersekolah lantas bekerja atau berdagang ketimbang mendorongnya berkarir sebagai pesepakbola. Karena itu, sepakbola bagi etnis Tionghoa saat ini hanya dijalani sebagai hobi dan kesenangan,” kata Michael.

Sementara itu, Sunarto, mantan pemain nasional di era 60-an, menduga zaman sekarang warga etnis Tionghoa takut jadi pesepakbola lantaran ngeri keributan di lapangan, yang secara tiba-tiba bisa berlanjut menjadi sentimen ras. “Sepakbola saat ini kerap dibumbui keributan. Mereka tak mau jadi korban gara-gara sepakbola,” kata Sunarto.

Dulu, cerita Sunarto, ada puluhan pemain beretnis Tionghoa yang tersebar di beberapa klub anggota Persib. Bahkan ada yang menjadi pengurus Persib. “Mereka merasa nyaman ikut main bola karena masa itu sentimen ras di tengah masyarakat tidak sekental sekarang,” ujar Sunarto.

“Kemampuan pemain etnis Tionghoa amat potensial. Apalagi dari segi ekonomi mereka terbilang mampu, otomatis gizinya juga terjamin. Kondisi gizi yang sehat amat penting bagi pesepakbola. Berbekal gizi yang baik, maka tingkat intelegensi bisa dipertanggungjawabkan. Terus terang, saya rindu munculnya pemain nasional dari kalangan etnis Tionghoa seperti masa lalu,” harap Sunarto.

Agaknya, harapan Sunarto bisa mewakili suara bangsa ini. Pemuda Tionghoa, kembalilah tengok sepakbola!.

%d bloggers like this: