Home »

Advertisements

TiongHoa Indonesia
10 Agustus 2017 · Daerah Khusus Ibukota Jakarta ·

*CHINESE COMPANY DAN BANGKRUTNYA JAMU NYONYA MENEER.*

Oleh: Dr.Herry Antono, SE, MM.

 

Suatu pertanyaan yg menarik, kenapa Chinese Company di Indonesia hampir tidak ada yg bisa bertahan sampai generasi ke 4 (buyut). Kalau ada hanya suatu anomali saja. Bahkan generasi ke 3 (cucu) pun relatif sedikit dan yang masih bertahanpun management di dalamnya cukup rapuh.

Secara tdk langsung ada pembagian wewenang antara cucu dari si A, si B, dst, dan masing² ada kata sepakat tdk resmi untuk tidak saling mengganggu. Tindakan atau keputusan apapun yang dilakukan cucu dari si A tidak akan diganggu cucu dari si B, atau sebaliknya. Jelas ini indikasi kuat, sudah tidak ada lagi “unity of comnand” yang diperlukan dalam management suatu perusahaan.

 

*KISAH SUKSES PEDAGANG TIONGHOA.*
Banyak kisah sukses para pedagang Tionghoa yg dulu dimulai dari pedagang kecil ala PKL sekarang. Berkat ketekunannya, mereka banyak yg sukses menjadi pedagang besar dan banyak juga yg beralih profesi menjadi pengusaha industri, dari yang kecil, menengah, besar, sampai yang raksasa.

Kisah sukses mereka memiliki pola yg nyaris sama, di mana si ayah menjadi single fighter baik di rumah maupun di tempat usaha. Dan umumnya semua mengeluh, anak²nya tidak ada yg bisa diandalkan. bahkan yang sudah sarjana sekalipun. Oleh karena itu pucuk kendali selalu dipertahankan secara sentralistis oleh sang ayah, sehingga anak²nya cenderung apatis.

Karena sang ayah bekerja berdasarkan naluri dan feeling, jelas sangat sulit bagi anak²nya mengikuti kemauan ayahnya, yang tidak jelas arah dan maksudnya. Masalah akan bertambah rumit lagi, karena dulu rata2 orang Tionghoa punya anak banyak. Bahkan tidak jarang, anak tertua cukup layak untuk menjadi ayah dari anak terkecil.

Kondisi seperti ini tidak masalah ketika sang ayah masih sehat dan bisa mengendalikan keluarga maupun perusahaan. Masalah mulai timbul ketika sang ayah sudah mulai sakit²an dan tdk bisa mengelola perusahaan lagi. Otomatis CEO perusahaan akan diserahkan kepada anak tertua atau anak yang dianggap paling mampu mengendalikan perusahaan.

*PERUSAHAAN MAJU vs KELUARGA PECAH.*
Ketika CEO perusahaan jatuh ke tangan anak, dan sang anak tidak mampu mengelolanya sehingga perusahaan bangkrut, cerita akan selesai sampai disitu. Walaupun sampai terjadi perselisihan keluarga dan menyalahkan CEO baru, tapi kadar perselisihan masih ringan. Semua anak akan berusaha cari nafkah nasing².

Tapi ketika ditangan sang anak perusahaan semakin maju, ini identik dengan memelihara bom waktu. Bom waktu akan mulai meledak satu persatu ketika adik²nya dewasa dan harus berumah tangga. Kalau sang CEO cukup bijak mengatur pembagian perusahaan, bom waktu ini bisa diredam sementara, dan baru akan aktif kembali di generasi berikutnya.

Bom waktu ini akan segera meledak jika si kakak yg menjadi CEO berpikir, bahwa perusahaan ini menjadi besar berkat jasa dia. Katakanlah waktu dia jadi CEO menggantikan ayahnya, kekayaan bersih perusahaan hanya Rp. 10 m. Ketika adik²nya meminta pembagian karena akan menikah, harta bersih perusahaan sudah menjadi Rp.100 m. Inilah sumber konflik utama.

Adik² nya akan beranggapan, CEO hanya meneruskan saja perusahaan peninggalan orang tuanya. Jadi pembagian harus dari Rp.100 m, toh selama ini si CEO sudah mendapat gaji dan fasilitas sebagai CEO. Lagi pula harga tanah sudah naik banyak, jadi nilai perusahaan yang dulu hanya Rp.10 m tsb sekarang mungkin sudah naik menjadi Rp. 50 m.

Sang CEO tentu tidak mau kalah. Adik² nya bisa sampai dewasa dan sekolah karena dibiayai hidupnya oleh dia. Kalau tidak dia yang mengelola, perusahaan tsb sudah bangkrut dari dulu. Akibat kasus seperti ini, di Bandung pernah kejadian sang adik yang kalah dalam gugatan di pengadilan, sampai tega membunuh kakaknya.

 

*KASUS JAMU NYONYA MENEER.*
Apa yang terjadi di perusahaan Jamu Nyonya Meneer, seperti yg diberitakan di mana², tampaknya tidak jauh dari seputar masalah yang diuraikan di atas. Ketika sampai generasi ke 2 (anak), ikatan saudara kandung masih bisa menahan perpecahan antar saudara.

Tapi ketika sampai ke generasi ke 3 (cucu), ikatan keluarga sudah semakin longgar, dan turut campur “pihak luar” (mantu dan cucu mantu) sudah semakin luas, perpecahan sudah tidak bisa dihindarkan lagi. Kalaupun mereka masih bertahan di perusahaan, karena sudah tidak ada lagi unity of command, maka perusahaan akhirnya akan bangkrut.

 

*SALAH LANGKAH*
Kejadian seperti ini bukan baru terjadi kali ini di PT. Nyonya Meneer, tapi banyak terjadi di berbagai Chinese Company di mana², di Indonesia. Hal seperti ini juga terjadi di perusahaan yg sudah berbentuk PT, karena ada ketidak puasan dari para pemegang saham yang mewarisi saham dari orang tuanya.

Tapi jika pembagian saham ini dilakukan sejak sang ayah masih hidup, disertai pengaturan tugas, hak dan kewajiban masing² anak secara jelas, niscaya ketidak puasan ini akan dapat diredam dan tidak akan menjadi bom waktu. Perusahaan juga harus dikelola secara profesional, dimana hanya anak yang kapabel saja yang boleh bekerja di perusahaan.

Ironinya, di hampir semua Chinese Company di Indonesia saat ini, jabatan Direktur Keuangan, Direktur Penjualan, dan Direktur Pembelian, selalu dipegang oleh keluarga sendiri tanpa melihat kemampuan masing² orang. Alasan klasik, kalau pakai orang luar takut di korupsi.

Tidak jarang Direktur Keuangan fungsinya hanya menanda tangani Cek / GB yang notabene tugas seorang kasir. Begitu juga dengan tugas seorang Direktur Penjualan dan Pembelian, tugasnya hanya menanda tangani invoice atau nota tagihan.

 

*KESIMPULAN*
Karena ketidak profesionalan ini, maka pegawai² di bawahnya saling berlomba mencari muka. Akibatnya pertentangan kakak beradik tsb semakin tajam, karena hasutan dari staff masing² di bawahnya. Niscaya kekonyolan² seperti ini tdk akan terjadi, jika jabatan² penting perusahaan ditangani oleh orang² yg benar² profesional pada bidangnya.

Direktur Keuangan, Direktur Penjualan, dan Direktur Pembelian, tugasnya mengelola Keuangan, Penjualan, dan Pembelian sedemikuam rupa untuk mendapatkan hasil yang optimal. Kalau pos-pos penting di perusahaan dikuasai oleh orang² yang tidak profesional, hanya karena mereka anak / cucu pemilik perusahaan, jangan heran kalau perusahaan dalam waktu relatif singkat akan bangkrut.

 

Bandung, 8 Agustus 2017

Advertisements